A. tersebut yang menjadi hasil belajar. Sehingga hasil belajar

A.    Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan
istilah yang terdiri dari dua kata yaitu hasil dan belajar. Hasil merupakan
perolehan yang didapat karena sebuah proses yang mengakibatkan perubahan.
Sedangkan belajar merupakan sebuah proses yang dilakukan untuk mendapatkan
suatu perubahan perilaku secara keseluruhan. Perubahan perilaku yang terjadi
akibat dari proses pembelajaran tersebut yang menjadi hasil belajar. Sehingga
hasil belajar dapat diartikan sebagai hasil perubahan tingkah laku manusia yang
disebabkan karena proses belajar.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Hasil belajar menurut
Bloom terbagi menjadi 3 aspek, yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek
psikomotorik.

a.      
Aspek kognitif

Aspek kognitif merupakan aspek yang berhubungan
dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yaitu mengingat,
memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta (Anderson,
2010).

1)     
Mengingat (C1), merupakan tingkatan kognitif yang
paling rendah. Mengingat adalah memunculkan pengetahuan dari memori jangka
panjang (Anderson, 2010). Aspek ini meliputi dua proses kognitif yaitu
mengenali (recognizing) dan mengingat
(recalling).

2)     
Memahami (C2), adalah membangun makna dari apa yang
didapatkan dari materi yang dipelajari. Orang yang memahami sesuatu biasanya
akan mudah untuk menjelaskan hal tersebut dengan bahasanya sendiri, dan mampu
memberikan contoh yang lain yang berkaitan (Sudjana, 2009). Aspek ini meliputi
tujuh proses kognitif yaitu menafsirkan (interpreting), memberikan contoh (exemplifying),
mengklasifikasikan (classifying),
meringkas (summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing), dan
menjelaskan (explaining).

3)     
Mengaplikasikan (C3), merupakan penerapan suatu
prosedur dalam suatu kegiatan. Pendapat lain mengatakan bahwa mengaplikasikan
adalah kegiatan menggunakan abstraksi pada situasi konkrit atau situasi khusus.
Aspek ini meliputi dua proses kognitif yaitu menjalankan (executing) dan mengimplementasikan (implementing).

4)     
Menganalisis (C4), merupakan kegiatan menguraikan
suatu konsep menjadi beberapa bagian kemudian mencari hubungan antara
bagian-bagian tersebut. Aspek ini meliputi 3 proses kognitif yaitu menguraikan
(differentiating), mengorganisir (organizing) dan menemukan pesan
tersirat.

5)     
Mengevaluasi (C5), merupakan suatu tindakan
mempertimbangkan berdasarkan kriteria tertentu untuk mengambil sebuah
keputusan. Aspek ini meliputi dua proses kognitif yaitu memeriksa (checking) dan mengritik (critiquing).

6)     
Mencipta (C6), adalah mempersatukan bagian-bagian
untuk membentuk suatu kesatuan yang bersifat baru dan belum pernah ada. Aspek
ini meliputi tiga macam proses kognitif yaitu membuat (generating), merencanakan (planning)
dan memproduksi (producing).

b.     
Askep afektif

Aspek afektif merupakan aspek yang berhubungan
dengan sikap atau kemampuan bersikap dalam menghadapi masalah-masalah yang
terdiri dari lima aspek yaitu penerimaan, reaksi, penilaian, organisasi dan
internalisasi (Sudjana, 2009). Aspek ini dapat dinilai dengan instrumen
evaluasi not tes seperti kuisioner dan observasi.

1)     
Menerima atau receiving, merupakan kemampuan dalam
menerima rangsangan dari luar yang berupa masalah atau semacamnya.

2)     
Reaksi atau responding, merupakan tindakan yang
dilakukan sebagai bentuk balasan dari rangsangan yang diterima.

3)     
Penilaian atau valuing, berhubungan dengan tingkat
kepercayaan terhadap suatu rangsangan.

4)     
Organisasi, menghubungkan nilai satu dengan yang
lain, memantapkan dan memprioritaskan nilai dalam satu organisasi.

5)     
Internalisasi, merupakan keterpaduan dari semua
sistem yang dimiliki, mempengaruhi kepribadian dan tingkah laku.

c.      
Aspek psikomotorik

Aspek psikomotorik merupakan aspek yang berhubungan
dengan ketrampilan dan kemampuan bertindak yang terdiri dari persepsi (perception), kesiapan (set),
gerakan terbimbing (guided response), gerakan
terbiasa (mechanism), gerakan kompleks
(complex overt response), penyesuaian pola gerakan (adaption), kreatifitas/keaslian (creativity/origination) (Sudjana, 2009).

            Hasil belajar dapat digunakan untuk mengetahui seberapa
besar perubahan yang terjadi pada diri seseorang. Perubahan tersebut dapat
berupa peningkatan atau perkembangan yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk
dapat melihat perubahan tersebut maka diperlukan pengukuran hasil belajar
dengan alat ukur atau alat evaluasi yang sesuai untuk menilai seberapa besar
perubahan yang terjadi (Arikunto, 2009). Hasil belajar perlu dinilai untuk
memantau proses, kemajuan dan perkembangan seseorang, selain itu juga digunakan
untuk memperbaiki proses pembelajaran (Haryati, 2007).

Hasil belajar yang
didapatkan oleh seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri atas aspek fisioligis yang berupa
kemampuam fisik sseseorang dan pskikologis yang berupa intelegensi, perhatian,
minat, bakat, motivasi, kemampuan kognitif dan daya nalar seseorang. Sedangkan
faktor ektsternal terdiri atas lingkungan dan pendekatan pembelajaran (Munardi,
2012).

 

B.     Inkuiri Terbimbing

Inkuiri berasal dari
bahasa inggris “inquiry” yang memiliki arti pemeriksaan atau penyelidikan.
Inkuiri merupakan suatu proses pembelajaran yang dilakukan dengan pencarian dan
penemuan dengan proses berpikir sistematis (Sanjaya, 2006). Inkuiri menghadapkan
siswa pada proses pemecahan masalah, dimana siswa yang memunculkan sendiri
masalah tersebut dan memecahkannya (Listiawati, 2007). Pembelajaran inkuiri
menekankan pada keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran.
Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran tersebut bertujuan untuk dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam menyelidiki, menganalisa secara logis dan
kritis.

Menurut Hamruni (2012),
pembelajaran inkuiri memiliki ciri utama yaitu 1) Aktifitas siswa dimaksimalkan
untuk mencari dan menemukan dalam proses pembelajaran; 2) Kegiatan siswa
diarahkan untuk mencari dan menemukan jawaban sendiri sehingga menumbuhkan
kepercayaan diri; 3) Pembelajaran inkuiri bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis.

Penerapan pembelajaran
inkuri di sekolah memiliki beberapa tingkatan berdasarkan usia dan
karakteristik siswa. Tingkatan-tingkatan inkuiri tersebut adalah 1) Discovery Learning, pada level ini guru
memberikan masalah dan cara menyelesaikannya, sedangkan siswa hanya mencari
jawabannya; 2) Guided Inquiry, pada
level ini guru berperan menentukan permaslahan dan siswa yang mencari cara
menyelesaikan masalah tersebut dan menentukan hasilnya; 3) Open Inquiry, pada level ini guru memberikan konteks penyelesaian
masalah, kemudian siswa mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah tersebut
(Zulfiani, 2007).

 Pada penelitian ini akan digunakan model
inkuiri terbimbing atau guided inquiry.
Inkuiri terbimbing biasanya digunakan untuk siswa yang belum pernah belajar
inkuiri (Zulyani, 2011). Pembelajaran ini diawali dengan permasalahan yang
diberikan oleh guru, kemudian siswa diberi kesempatan untuk mencari dan
menyelesaikan masalah tersebut dengan penyelidikan. Dalam proses ini, guru
berperan sebagai fasilitator dan membimbing siswa untuk menyimpulkan. Selain
sebagai fasilitator guru juga berperan memberi penghargaan kepada siswa agar
siswa lebih termotivasi dalam proses penemuan (Trianto, 2007).

Inkuiri terbimbing
membuat siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran karena model ini memberikan
kesempatan siswa untuk merumuskan prosedur, menganalisis hasil dan membuat
kesimpulan sendiri (Chodijah, 2012). Model ini mengajarkan siswa untuk
mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, kritis danaanalitis untuk
menemukan jawaban sendiri. Karakteristik inkuiri terbimbing menurut Kuhlthau
(2007) yaitu 1) Siswa yang aktif; 2) Siswa yang belajar menemukan konsep baru
dari pengalaman sebelumnya; 3) Belajar mengembangkan proses berpikir; 4) Cara
belajar yang beragam pada siswa; 5) Adanya interaksi sosial dalam proses
pembelajaran.

Prinsip utama dari
pembelajaran inkuiri terbimbing adalah menerapkan pembelajaran yang melatih
kemampuan berpikir siswa, sehingga tidak hanya sebatas memahami materi secara
mendalam. Hal tersebut sesuai dengan tujuan dari inkuiri terbimbing yaitu untuk
mengembangkan kemampuan intelektual dan kemampuan lain seperti membuat
pertanyaan dan rasa ingin tahu yang tinggi sampai menemukan jawaban sendiri.

Model pembelajaran
inkuiri terbimbing sering digunakan untuk mengatasi masalah pembelajaran yang
ada di kelas karena memiliki kelebihan sebagai berikut : 1) Inkuiri terbimbing
tidak hanya mengembangkan salah satu aspek hasil belajar, tetapi seluruh aspek
yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik; 2) Inkuiri terbimbing memberikan
kesempatan kepada siswa untuk dapat belajar sesuai dengan keinginannya; 3)
Model ini dianggap sesuai dengan perkembangan yang menganggap belajar merupakan
proses perubahan diri; 4) Model ini cocok digunakan untuk siswa yang memiliki
kemampuan belajar diatas rata-rata (Kurniasih, 2015). 

Selain memiliki
kelebihan, model inkuiri terbimbing juga memilki kelemahan, yaitu : 1) Kegiatan
dan keberhasilan siswa dalam model ini sulit untuk dikontrol; 2) Model ini
sangat berbeda dengan kebiasaan belajar siswa, sehingga sulit untuk
mendesainnya; 3) Penerapan model ini membutuhkan waktu yang relatif lama
(Hamruni, 2012).

Pelaksanaan model
inkuiri terbimbing memiliki tahapan-tahapan. Menurut Oemar Hamalik (2013),
langkah-langkah pembelajaran inkuiri adalah a) Mengidentifikasi dan merumuskan
masalah; b) Membuat pertanyaan atau rumusan masalah; c) Menyusun hipotesis; d)
Menguji hipotesis; e) Membuat kesimpulan.

Sedangkan menurut Hamruni
(2012), langkah-langkah dalam pembelajaran inkuiri adalah sebagai berikut: a)
Orientasi, kegiatan awal mempersiapkan siswa menuju pembelajaran yang akan
dilaksanakan; b) Merumuskan masalah, memacu siswa untuk membuat sebuah
pertanyaan yang berasal dari kegiatan orientasi; c) Mengajukan hipotesis,
memberi jawaban sememntara dari pertanyaan yang diajukan siswa; d) Mengumpulkan
data, mencari informasi yang terkait dengan pertanyaan yang diajukan; e)
Menguji hipotesis, menentukan jawaban berdasarkan hasil pencarian; f)
Merumuskan kesimpulan, menjelaskan temuan yang didapat berdasarkan hasil
pencarian dan pengujian hipotesis.

Sintak atau
tahap-tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing yang akan digunakan dalam
penelitian ini merupakan sintak yang diadaptasi menurut pendapat Hamruni
(2012), yaitu sebagai berikut.

Langkah-langkah pembelajaran inkuiri terbimbing yang digunakan dalam
penelitian

No

Sintaks

Aktivitas Guru

1.

Orientasi

–         
Guru menyiapkan kondisi siswa.
–         
Guru memberi apersepsi untuk
menarik perhatian siswa.
–         
Guru menjelaskan kegiatan yang
akan dilakukan siswa.

1.     
 

Merumuskan Masalah

–         
Guru merumuskan masalah yang
sesuai dengan materi yang akan dipelajari.

2.     
 

Merumuskan Hipotesis

–         
Guru membimbing siswa untuk
merumuskan jawaban sementara dari rumusan masalah.
 

3.     
 

Menguji Hipotesis

–         
Guru membagikan LKS dan membimbing
siswa untuk menguji hipotesis/ mengumpulkan informasi-informasi yang terkait
dengan rumusan masalah.
 

4.     
 

Mengolah Data

–         
Guru memberikan kesempatan siswa
untuk mengisi LKS.
–         
Guru membberi kesempatan siswa untuk
menyampaiakan hasil diskusi kelompok ke diskusi kelas.
–         
Guru memberikan kesempatan siswa
lain untuk bertanya apabila ada yang kurang paham.
 

5.     
 

Menarik Kesimpulan

–         
Guru mengajak siswa untuk
menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

 

Penerapan model inkuiri
terbimbing dalam proses pembelajaran memberikan dampak yang cukup nyata bagi
siswa. Penerapan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar siswa
sebagai dampak instruksional, selain itu dalam proses inkuiri terbimbing seperti
mengumpulkan, mengolah data dan menarik kesimpulan secara tidak langsung
mengembangkan kemampuan berpikir siswa.

 

C.    Pembelajaran Konvensional

Pembelajaran
konvensional atau pembelajaran tradisional merupakan pembelajaran model lama
yang banyak diterapkan oleh guru sampai saat ini. Pada proses pembelajaran
dengan metode konvensional, seringkali guru lebih banyak menjelaskan materi
pelajaran, sedangkan siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru.
Pembelajaran ini biasanya menggunakan metode ceramah, diskusi dan tanya jawab,
serta penugasan yang dilakukan secara bergantian.

1)     
Metode Ceramah

Metode ceramah dalam
mengajar yaitu menjelaskan secara lisan materi yang dipelajari oleh guru kepada
siswa. Dalam penerapan metode ini biasanya menggunakan bantuan media seperti
gambar atau alat bantu lain. Kelebihan dari metode ini adalah: a) Kelas yang
mudah dikuasai oleh guru; b) Mudah dalam mengorganisasi kelas; c) Mudah
mempersiapkan dan melaksanakan pembelajaran; d) Memungkinkan jumlah siswa yang
banyak. Sedangkan kekurangan dari metode ini yaitu: a) Membosankan apabila
terlalu lama; b) Peserta didik menjadi pasif; c) Guru beranggapan bahwa siswa
paham dan tertarik dengan penjelasannya.

2)     
Metode Diskusi

Diskusi adalah kegiatan
yang dilakukan oleh dua atau lebih siswa untuk membahas suatu permasalahan
tertentu. Dalam sebuah diskusi siswa akan belajar bagaimana menanggapi pendapat
dari siswa lain, memelihara kesatuan dan kekompakan kelompok serta belajar
bagaimana cara mengambil keputusan.

 

3)     
Metode Penugasan

Penugasan merupakan
metode yang digunakan guru untuk mengaplikasikan pengetahuan yang sudah
diberikan. Penugasan ini dapat berupa pemberian PR atau tugas lain yang
berkaitan dengan materi yang telah disampaikan. Tugas diberikan agar siswa
lebih paham tentang materi yang telah dipelajari.

Dibawah ini merupakan
sintak atau tahapan-tahapan dalam pembelajaran konvensional.

Langkah-langkah pembelajaran
Konvensional

No

Tahapan

Kegiatan Guru

1.

Kegiatan awal

–         
Menyampaikan tujuan pembelajaran
–         
Apersepsi
 

2.

Kegiatan inti

–         
Menjelaskan materi
–         
Membimbing jalannya diskusi
 

3.

Kegiatan penutup

–         
Membuat kesimpulan
–         
Memberi evaluasi
–         
Memberi penugasan

 

2.     
Kerangka Berpikir

Pendidikan di Indonesia
masih jauh dari harapan. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil riset yang
dilakukan oleh UNDP (United Nation
Development Programme) dengan mengukur human
development index (HDI) pada 169 negara di dunia, dimana Indonesia berada
diposisi 108 dari 169 negara. Rendahnya mutu pendidikan ini disebabkan oleh
banyak faktor, salah satunya yaitu kurangnya pengembangan kemampuan berpikir
kritis siswa. Kemampuan berpikir kritis ini sangatlah dibutuhkan setiap orang
di era globalisasi untuk mengimbangi kemajuan IPTEK yang ada, dimana setiap
orang dituntut untuk dapat menerima informasi secara cepat, benar dan tepat. Salah
satu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah dengan
menerapkan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing.

Pembelajaran menggunakan
model inkuiri terbimbing secara tidak langsung melatih kemampuan berpikir
kritis siswa. Hal tersebut dikarenakan pada setiap sintaks atau langkah-langkah
dalam pembelajaran inkuiri siswa diberi kesempatan untuk terlibat secara aktif
dalam pembelajaran. Langkah-langkah pembelajaran inkuiri seperti merumuskan
masalah, mebuat hipotesis, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan dapat
melatih siswa untuk berpikir sehingga dapat meningkatkan kemampuan berpikir
kritis siswa.

Pembelajaran menggunakan
metode konvensional seperti ceramah, diskusi dan tanya jawab kurang dapat untuk
mengembangkan kemampuan berpikir siswa karena pembelajaran yang berpusat pada
guru sehingga siswa hanya cenderung menerima informasi dari guru dan
menghafalkan informasi tersebut tanpa memikirkannya.

Penelitian ini merupakan
quasi eksperiment menggunakan 2 kelas, yaitu kelas kontrol dan kelas ekperimen.
Kelas kontrol akan mendapatkan pembelajaran dengan metode konvensional,
sedangkan kelas eksperimen akan mendapatkan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing
yang diharapkan mampu untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil
belajar siswa.